#2

Untukmu, perempuan manis yang duduk disudut mimpi
Ingin aku perjuangkan setiap inci yang kau minta
Sayangnya, kau terlalu sibuk dengan yang tak terlihat
Bukan dengan aku yang nyata dimatamu

Untukmu, perempuan bergigi kawat yang kuat
Aku ingin menjadi pundak pulangmu
Menerima setiap keluh kesah yang gusar kau bawa
Mendengarkan setiap nada yang kadang terdengar lebih resah

Untukku, aku bahagia mendengarmu menangis
Kau tak lagi perlu mengurung setiap bulir sakitmu
Sementara aku berduka mendengarmu tertawa
Karena pada tawamu itu, ada kian banyak duka yang kau sembunyikan rapat-rapat

Untukku, lebih senang melihatmu apa adanya
Pipi yang bersih, alis yang sudah rapih; dan bibir yang tanpa noda
Aku senang saat adeganmu mengikat rambut
Memboyong semua lembarnya menjadi bulat; cepol namanya bukan?

Kau, selalu terlihat cantik dimataku
Terlihat sempurna; meski kata-kata ini begitu banyak terdengar dari laki-laki pemuja sepertiku
Aku, mungkin bukan sekedar menganggumi; bukan juga hanya mencintai. Kau sebut saja maunya apa; aku rela.






Komentar